Nuansa Sejuk dengan Rafting di Sungai Oyo

Celana saya masih basah. Lebih dari satu t-shirt juga masih basah. Jalan setapak keluar berasal dari mulut Gua Pindul sedikit basah dikarenakan tetesan air berasal dari baju dan celana para wisatawan. Terik matahari pas itu menolong kaos dan celana jadi cepat mengering.
Pengalaman eksotik susur Gua Pindul selama hampir 45 menit masih sulit dilupakan. Sesudah keluar berasal dari mulut gua, saya dan teman-teman dijemput bersama pick-up untuk melanjutkan rafting di Kali Oyo. Lokasi rafting masih di Desa Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo;Gunungkidul.
Roda pick-up bergerak. Jalan “Off-Road” desa tak beraspal dilalui. Sambil berdiri di bak belakang pemandu memperkenalkan hutan pohon kayu putih (Melaleuca Leucadendra) dan pabrik penyulingan. Teman saya mencoba menggapai dan memetik daunnya. Sesudah diremas, daun itu diciumnya. Aroma bau kayu putih merebak.
“Silahkan turun, Bapak Ibu. Bawa masing-masing ban pelampungnya. Kami berlangsung menuju ke Sungai Oyo di sebelah Barat sana,” ujar Joko memandu kita. Barisan pembawa ban di dalam pun membebek dan mengikuti Joko berasal dari belakang.

Tersedia danau kecil sebelum terjun ke sungai. Air yang jernih sedikit menggoda untuk berenang. Tetapi lagi Joni beri tambahan arahan sebelum rafting dimulai. “Panjang sungai 1,5 km dengan paket wisata rafting murah. Jeda tempuh kira-kira 1,5 jam. Nanti kami berhenti di lebih kurang air terjun. Yang menginginkan lompat latif, monggo,” kata Joni memberi kelonggaran kepada kita.
Biasanya rafting memakai bahtera karet. Kali ini rafting mengenakan ban pelampung yang diduduki. Arus Sungai Oyo tak sederas yang saya bayangkan. Bersama cara mengapung dan kadang mengayuh bersama tangan sehingga terus hanyut, jadi sensasi tersendiri.
Sepanjang menyusuri sungai, keadaan alami bersama dengan penguasaan tanah kapur dan alang-alang dan juga tebing-tebing sungai, makin terasa nikmat. Batu-Batu menyembul di permukaan air yang kadang tak sengaja diterjang dikarenakan terdorong oleh arus sungai. Sengatan matahari pun tak saya hiraukan sebab begitu asyiknya bermain arung jeram.
Perjalanan rafting mencapai puncaknya ketika tiba di dua air terjun. Permainan lompat latif, yaitu terjun berasal dari jembatan bambu atau melompat berasal dari atas tebing batu, mulai ramai diperlihatkan oleh wisatawan. Para pemandu tampak mengamankan ban-ban pelampung yang ditinggalkan oleh wisatawan dikarenakan mengidamkan melaksanakan lompat latif bersama dengan terjun ke sungai. Pemandu yang lain mengawasi dan memastikan jangan tersedia satu pun wisatawan yang tenggelam. Kedalaman air di lokasi itu tidak cukup lebih tiga meter.
Sesudah suka bermain-main air di kurang lebih air terjun, kelanjutannya kita diantar menuju ke base-camp operator bersama dengan memakai pick-up. Sesampainya di pos operator, lalu kita bilas diri mandi. Waktu itu, Mbak Ning Shakuntala udah memberi kode bahwa makan siang udah siap. Menu makan siang terlampau istimewa, yaitu nasi merah, sayur lodeh, mengetahui-tempe bacem, dan keripik kacang. Tak lupa saya pesan sambel bawang yang pedas.
Menu makan ala desa itu sungguh mengenyangkan perut. Rasa lapar dikarenakan kesibukan rafting tadi, terobati telah.