Skripsi Bagus Tapi Nilai Pas-Pasan

Hal ini pernah aku rasakan kala menempati bangku perkuliahan. Yang paling aku rasakan kala tengah hadapi sidang skripsi. Disaat aku udah mengakibatkan sebuah suatu penelitian berwujud proses Info yang beda yang lain. Karena biasanya dosen pembimbing memberi tahu

Dari situ aku berpikiran untuk mengakibatkan sebuah penelitian skripsi yang tidak sama dari yang lain, yang menampilkan nilai unik tersendiri dan beda dari yang lainnya. Namun pikiran itu tidak dipedulikan kala dosen penguji menguji aku kala sidang pendadaran.

Mereka lihat rencana proses yang membuat di naskah, tetapi aku melaksanakan kekeliruan pada perancangan yang tidak sesuai bersama dengan rencana beliau. Padahal sebelumnya aku membuat itu berdasarkan dari acuan skripsi yang lain dari referensi teman aku yang dapat nilai perfect dari hasil skripsinya itu. Bagaimana dapat sebagian referensi skripsi itu mendapat nilai yang perfect dan rencana mereka tidak mendapat kekeliruan dari penguji. Karena kala aku mengakibatkan rancangan, aku mengakibatkan nya berdasarkan referensi dari lainnya seperti jasa pembuatan skripsi kedokteran.

Hal yang aneh itu adalah mereka yang merancang sedemikian rupa tidak mendapat kekeliruan yang sama layaknya aku kala diuji dihadapan dosen yang sudah pasti lebih ahli dari mereka. Namun kenyataannya mereka mendapat nilai maksimal dari hasil skripsi nya dan kala aku menggunakannya untuk referensi aku disalahkan kala sidang. Oke, kalo sebetulnya aku tidak benar ya gak papa. Saya dapat perbaiki itu , tetapi bagaimana bersama dengan acuan skripsi yang lain yang tidak sesuai bersama dengan kaidahnya tetapi dapat mendapat nilai yang memuaskan.

Kadang aku ngerasa kok gak adil ya, apa dosennya khilaf membuat ngecek, apa dosennya gak amat memahami konsisten di skip rubah pembahasan lain, semestinya mereka miliki standar sendiri didalam penilaiannya dan tentu sepenuhnya harus disamakan sehingga kedepannya hasil dari naskah yang diacu oleh adik-adik tingkat yang tengah mengerjakan skripsi dapat terbantu bersama dengan ada kebenaran dari rencana yang udah dibuat . Apakah didalam penilaian skripsi tidak ada standarisasi yang mengakibatkan karya tersebut layak mendapat nilai maksimal atau mendapat nilai tepat pasan. Terkadang teman teman aku bercerita setelah mendapat nilai dari hasil skripsi mereka.

Dalam kenyataanya ada dosen yang dia benar benar memahami dan parah dan juga ada dosen yang biasa aja, gak amat memikirkan perihal perihal yang kadang itu adalah tidak benar di mata dosen lain yang kritis. Dan kala seseorang diuji oleh dosen yang gak parah ini dan mereka dapat menjawabnya, mereka mendapat nilai maksimal, dan jikalau disalah satu naskahnya terkandung kekeliruan yang tidak dilihat oleh dosen itu, yasudah, orang lain seterusnya yang mereferensi penelitiannya itu akan disalahkan, jikalau dia bertemu bersama dengan dosen yang parah dan benar benar paham. Jadi kala berada di medan pertempuran diruang sidang ada yang berharap
Dan kala dia didatangi oleh dosen yang benar benar menguasai bidang itu. Mahasiswa itu layaknya mendapat jackpot yang mengakibatkan mereka bicara didalam hatinya

“oh nooo, kenapa papa itu yang datang”.

Hal ini semacam untung untungan kala berada didalam area sidang.

Oke kembali ke cerita aku tadi, jadi , emang sih perancangan proses aku tidak benar dan aku akui itu kala dosen penguji memberikan masukan bagaimana yang benar sesuai kaidah beliau. tetapi sayangnya penelitian aku banyak yang salah. Lah aku turut sama referensi skripsi yang udah udah yang memahami memahami mendapat nilai bagus, tetapi kala itu aku disalahkan karena sebetulnya salah. Dan dosen pembimbing sudah-acc dari hasil penelitian kami bermakna kan itu udah layak dan benar kala dihadapkan oleh penguji lain di sidang. Tapi kenyataanya enggak, masih banyak kekeliruan yang akibatnya aku ya mendapat banyak krititan dari beliau. dan aku terhitung baru tau kebenaran nya mengenai perancangan yang valid itu kala diuji. Jadi sebelumnya gak tau bagaimana perancangan yang benar benar valid itu layaknya apa. Jadi aku layaknya diombang ambing bersama dengan ketidak jelasan, aku harus mengacu yang mana.

Dosen pembimbing parah atau yang biasa aja
Jika kalian tengah skripsi yang mendapat dosen pembimbing yang parah dan tau perihal kekeliruan kekeliruan kecil yang mengakibatkan kalian dapat kapan aja disalahkan, beruntunglah kalian , dari pada mendapat dosen yang kurang teliti. Dan Ketika bimbingan, naskah kalian dibolak balik bersama dengan indahnya dan cepat di-acc. Emang nyenengin karena gampang membuat lanjut ke selanjutnya, tetapi kalo anda gak miliki pondasi yang kokoh yang melandasi mengenai penelitian kalian dan kala diuji anda mendapat dosen yang kritis, ya siap siap aja membuat mendapat kritikan sama beliau dan jikalau anda diuji sama dosen yang kurang parah dan tidak teliti kalo naskahmu ada yang tidak benar ya selamat anda beruntung.

Beda kasusnya kalo anda mendapat dosen pembimbing yang parah yang tau letak kekeliruan kekeliruan anda dan gak asal main acc aja. Ketika saatnya diuji anda akan benar benar siap karena penelitian yang anda membuat itu bener bener sesuai bersama dengan kaidah nya.

Hal yang amat disayangkan dari penelitian aku adalah, aku udah mengakibatkan bermacam fitur dari proses Info aku bersama dengan sedemikian rupa dan beda dari yang lainnya . udah ada masalah ada masalah membuat dan cuma perancangan nya ada yang tidak benar karena tidak sesuai bersama dengan kaidahnya konsisten nilaiku jadi gak maksimal. Bahkan beliau tidak lihat proses yang udah aku membuat secara keseluruhan. Rasanya itu sakit. Udah ada masalah ada masalah coding tetapi gak diliat sama sekali, cuma mereka lihat di perancangannya. oh ya jurusan aku emang proses Info jadi bahasnya mengenai coding dan perancangan. Hehe. Pada kenyataannya aku emang tidak amat dapat perancangan sistem, tetapi kala dihadapkan bersama dengan proses pembuatan proses dan coding nya, aku nomor satu. Kecewa sekali kala pak dosen penguji tidak lihat sisi lain dari kekeliruan aku dan bilang

“coba mas demoin programnya layaknya apa”.

Dan bilang

“wah bagus mas sistemnya, beda sama yang lainnya. cobalah kalo diikutkan lomba mas, barangkali dapat menang itu tetapi ini perancangannya ada yang tidak benar nanti direvisi lagi”.

Tapi realita tidak sesuai bersama dengan harapan, dan kadang terasa nyesal sendiri. Udah membuat proses yang bagus, gak dilihat isinya kayak gimana, tetapi nilainya sama yang lainnya yang sistemnya biasa biasa aja. Terus kenapa aku mendapat nilai itu. Tau gitu kemarin membuat proses yang gampang aja kalo dapatnya Cuma segini. Yang ada dipikiran Cuma ada kata kenapa,kenapa dan kenapa. Tapi menyesali itu tidak akan mengakibatkan nilai anda berubah. Kecuali anda bawa parang dihadapan beliau, haha, bercanda sob, sumpah jangan dilakuin. Durhaka namanya. Haha.

Setelah aku mengalami perihal itu aku sedikit mendapat pencerahan. Tidak masalah anda mendapat nilai paspasan kala anda terasa diri anda layak untuk mendapat nilai sempurna. Yang terutama adalah skill anda bahwa anda dapat mengimplementasikan nya untuk meraih rupiah atau dollar melalui kerja atau bangun usaha sendiri. Tapi yang terutama adalah berikan yang paling baik kepada apa-pun itu dan totalitas kala hadapi masalah. Ambisi itu harus kala anda mengidamkan melaksanakan sesuatu, layaknya kala mengerjakan skripsi

“saya ingin penelitian aku itu terkandung fitur ini ini dan ini, harus bisa” .

Walaupun pada endingnya anda tidak mendapat nilai yang anda idam mengidamkan karena kekeliruan yang berasal dari acuan anda yang tidak benar. But, it’s okay. Kamu miliki kepuasan tersendiri kala anda berhasil mengakibatkan penelitian yang paling bagus menurut anda dan ambisimu tercapai melalui kerja keras dari hasil penelitian kamu.

Sebenanya aku masih penasaran kenapa dapat mendapat nilai itu karena penilaiinya yang tidak transparan yang ditunjukkan langsung ke mahasiswa

“ini lho mas nilai anda kenapa dapat dapat nilai segini”.

Kalo barangkali aku tau kenapa mendapat nilai itu barangkali jiwa aku agak tenang karena tau kebenarannya kenapa aku mendapat nilai tepat pasan. Tapi yasudah lah, itu semua udah aku lewati dan kelanjutannya aku dapat menempuh jaman studi aku tepat waktu.